Tab Menu 6



-->

Senin, 04 Juni 2012

THE VIP

Di dalam dunia sepakbola pasti ada suporter dan suporter terbagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan perilaku dan tujuan mereka pada saat menonton pertandingan, contoh nya adalah hooligan, tujuan mereka datang ke stadion hanya untuk mehadang suporter tim lawan,ultras mereka takan berhenti bernyanyi dan memberi semangat untuk tim selama pertandingan berlangsung,dan beda lagi dengan yang satu ini

THE  VIP bagi mereka yg penting  bukan menonton dan menanti hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola mereka datang ke stadion hanya untuk mencari pencitraan semata, mereka datang menonton ke  stadion  supaya bisa di tonton oleh suporter lain sebagian dari mereka berasal dari kalangan atas seperti selebritis, pembisnis, pejabat daerah /negara seperti gubernur dan walikota

terkadang kedatangan mereka penting juga bagi club sepakbola karena tak sedikit dari mereka adalah sponsor atau pun calon sponsor dari tim yang mereka tonton
dari kalangan selebritis pun penting karena menjadi daya tarik tersendiri bagi suporter lainnya..

jadi apakah anda termasuk dalam THE VIP ..???

@joesesath


west ham united history


Cikal bakal klub dimulai ketika para pekerja Thames Ironworks mendirikan tim sepakbola pada 1895. Tim berlaga di beberapa kompetisi amatir dan pernah menjuarai beberapa turnamen lokal. Tiga tahun berselang, klub beralih status menjadi profesional dan mulai berlaga di Divisi Dua Southern League. Pada 1899, warna seragam klub yang biru diubah menjadi paduan marun dan biru muda karena terinspirasi sukses Aston Villa, juara liga saat itu. Namun, masalah finansial menghampiri klub dan pada 1900, klub dirombak dan diluncurkan kembali dengan nama baru, West Ham United FC.

Musim 1922/23, West Ham sukses meraih promosi ke Divisi Satu Football League, kasta tertinggi kompetisi sepakbola Inggris saat itu. Tak hanya itu, West Ham juga mampu melaju ke babak puncak Piala FA, yang untuk kali pertama digelar di Wembley, dikenal dengan White Horse Final. Laga puncak tersebut dipenuhi hingga 200.000 penonton dan lapangan harus "dibersihkan" dari lautan manusia oleh seekor kuda putih bernama Billie. Sayangnya, West Ham dikalahkan Bolton Wanderers, 2-0, pada partai itu.

West Ham dianggap sebagai salah satu kunci kesuksesan Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966. Empat gol yang diciptakan Inggris di final merupakan kontribusi dua pemain West Ham, Martin Peters dan Geoff Hurst. Kapten tim saat itu, Bobby Moore, adalah seorang legenda West Ham. Namun, prestasi tim mulai menurun periode 1970-an, ketika klub harus turun naik divisi. Ketika Liga Primer digulirkan, West Ham selalu menjadi bagian dari anggota top tier kecuali dalam tiga musim. Prestasi terbaik West Ham pada periode ini adalah dengan menempati peringkat kelima musim 1998/99 saat masih ditangani Harry Redknapp.

Di Inggris, reputasi West Ham juga dikenal sebagai klub yang mencetak pesepakbola top. Sejak 1950-an, klub mendirikan pusat pembinaan pemain muda yang dibentuk manajer Ted Fenton. Hasil pembinaan tersebut menciptakan para pemain seperti Moore, Peters, dan Hurst, yang menjadi anggota tim juara dunia 1966. Pada periode selanjutnya, akademi memberikan Hammers banyak pemain ternama, seperti Trevor Brooking, Tony Cottee, Paul Ince, Rio Ferdinand, Joe Cole, Michael Carrick, Glen Johnson, hingga Frank Lampard.

@joesesath

Jumat, 01 Juni 2012

curva nord

Curva adalah sebuah tribun penonton yang melengkung di belakang gawang pada sebuah stadion
biasa nya terletak di sebelah utara dan selatan karena itu disebut juga curva nord dan curva sud
curva nord dan curva sud sangat terkenal di italia contohnya adalah  lazio dan inter milan

Curva Nord berawal ketika kelompok-kelompok kecil pemuda penggemar Lazio menemukan tempat favorit mereka di kursi Stadion Olimpico bagian selatan, yang disebut sebagai CURVA SUD.

Mereka adalah "ultras" yang pertama, dan mereka memiliki nama seperti "Tupamaros, Aquile, ultras, Vigilante, NAB, CAST, Marinir". Tapi mereka juga membuat wadah fans yang besar dan nyata. Maka di tahun 1971, mulailah sejarah kelompok terorganisir pertama pendukung Lazio dibuat dengan nama "Commandos Monteverde Lazio", nama ini berasal dari bagian kecil dari kota Roma yang disebut Monteverde. yang kemudian disebut CML '74, Karena perayaan scudetto yang dimenangkan Lazio pada tahun itu.

Pada tahun 1976 kelompok-kelompok Curva Sud memutuskan untuk menyatukan kembali para tifosi dengan nama G.A.B.A. yang kemudian di tahun berikutnya, muncul "Eagles Supporters" yang membawa banner sepanjang 56 meter dengan nama Inggris. Sejarah ini membawa suasana tim lazio berada di Curva Nord selama lebih dari sepuluh tahun.

Pada tahun 1978 kelompok lain yang disebut "Vikings" muncul di Curva Sud. Mereka dibentuk dengan adanya unsur politik dan merupakan kelompok masa yang cukup keras.
Pada tanggal 28 Oktober di tahun 1979, terjadi sebuah tragedi yang mengerikan di persepak-bolaan italia. Saat itu terjadi pada derby antara AS Roma dan S. S. Lazio, dengan A.S. Roma bertindak sebagai tuan rumah. Sebanyak 15,000 penggemar Lazio datang ke Stadion Olimpico, dan memenuhi Curva Nord. Ketika salah satu dari 3 roket darurat ditembakkan oleh pria berusia 17 tahun yang berada di Curva Sud membunuh Vincenzo PAPARELLI, 33 tahun seorang kepala keluarga penggemar Lazio.
Pada tahun yang sama Eagles Supporters memutuskan untuk mentransfer diri ke Curva Nord diikuti oleh semua kelompok lainnya kecuali Vikings, yang kemudian akhirnya juga mengikuti Curva Nord 2 tahun kemudian.

Tahun 80an adalah tahun terburuk untuk SS Lazio, namun sebaliknya untuk para penggemar Lazio justru tidak menyerah dalam memberikan dukungan terhadap tim. Tindakan supporter ini kemudian dikagumi oleh semua orang karena semangat dan orisinalitas mereka.

Di tahun 1987 dan saat pertandingan melawan Padova, Eagles Supporters bukan satu-satunya kelompok yang mendukung SS Lazio di Curva Nord, karena munculnya grup baru bernama "IRRIDUCIBILI" (sebuah organisasi pendukung Lazio terbesar hingga saat ini) untuk pertama kalinya dengan banner 10 meter mereka. Perubahan terjadi pada cara dalam mendukung tim oleh hampir semua kelompok Italia lain, dengan menghilangkan suara drum dan memperkenalkan sorakan dan nyanyian berorientasi inggris. Jelas ada kontras yang besar dengan Eagles Supporters, yang ingin mengikuti gaya lama , dan ini ditandai dengan hilangnya mereka dari Curva Nord pada tahun 1992.
Dengan kedatangan Sergio Cragnotti sebagai presiden SS Lazio, membawa Lazio masuk dikancah Eropa, dan penggemar yang sebelumnya hanya dikenal di seluruh italia, sekarang mereka dikenal di seluruh benua itu berkat IRRIDUCIBILI. Bahkan Coca Cola mengambil koreografis mereka sebagai tempat untuk sponsorisasi Kejuaraan Eropa.

1999-2000's Serie A adalah sebuah kemenangan yang tak terlupakan bagi lazio. Musim 2002-2003 adalah sebuah momen penting bagi IRRIDUCIBILI yang memasuki umur 15 tahun. Di tahun ini, SS Lazio memutuskan untuk memberikan kepada Curva Nord, Jersey SS Lazio dengan nomor 12, yang secara resmi selamanya tidak akan dipakai lagi oleh pemain Lazio, namun akan selalu diperuntukkan bagi tifosi Lazio yang melambangkan pentingnya sebuah kasih dan dukungan semangat fans Lazio.Kini Curva Nord dipandu oleh IRRIDUCIBILI, dengan old CML '74, Vikings, the BANDA NOANTRI, the group Anni '70, the VETERANI di Tribuna Tevere dan the LEGIONE di Curva Sud.

sumber : www.ultraslazio.it

barra bravas

Barrabravas merupakan julukan suporter Amerika Latin. Polah tingkah hooligan ala Amerika Latin ini tidak berbeda dengan kelompok-kelompok suporter lain yang berasal dari Inggris maupun Italia.
Barrabravas secara harfiah berasal dari bahasa spanyol yang bisa diartikan pendukung fanatik, geng BARRABRAVAS paling terkenal tentunya dari kelompok pendukung klub River Plate (borrachos del tablon dan Los Banda del Oeste),juga dari kelompok pendukung klub Boca Junior (La Doce) yang merupakan rivalitas terbesar di argentina. Bagi Barrabravas membunuh suporter lawan dan berkelahi dengan sesama suporter klub sendiri adalah hal yang biasa. Agak aneh memang yang luar biasa tawuran antar sesama dr satu klub,contoh sesama suporter River Plate atau sesama geng Barrabravas Boca Junior (paling sering di argentina). Argentina memang mempunyai banyak kelompok barrabravas. Mereka terpecah menjadi beberapa fraksi dan terkadang sering terjadi bentrok. 

Barrabravas Boca memang terkenal sangat ekstrim. Apalagi pada saat Boca bertanding dengan rival utama mereka, yaitu River Plate. Barrabravas Boca yang tergabung dalam kelompok bernama La Doce (The 12th Man) melakukan kerusuhan ketika Boca Junior sedang bertanding Chacarica Juniors.  Pada September2003, Liga Argentina nyaris dihentikan karena berbagai kekacauan dan kerusuhan oleh Barrabravas baik di dalam stadion maupun luar stadion. Suporter memang menunjukkan Loyalitas terhadap tim yang didukungnya tak terkecuali Barrabravas. Tidak banyak suporter tewas gara-gara sepak bola. Sepak bola memang menyimpan daya ledak yang luarbiasa bagi pendukungnya. Namun sampai saat ini sepak bola belum bisa berdamai  dengan kekerasan.

@joesesath

Chelsea Headhunters

Chelsea, Headhunters merupakan klub Hooligan rasis yang juga kadang di kaitkan dengan Front Nasional dan Paramiliter Combat 18.

Para pemburu kepala memiliki persaingan dengan rekan-rekan yang mengikuti tim lain London, seperti arsenal, tottenham , west ham dan queen park rangers

Pada 1999, headhunter telah disusupi oleh seorang reporter BBC yang menyamar sebagai anggota tapi punya tato singa yang salah (Fans berat Chelsea pasti tau Logo Singa Chelsea) - kesalahan berisiko yang membuat geram para Headhunters.

Mantan pimpinan Headhunters, Kevin Whitton, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1985 setelah melakukan suatu serangan yang dianggap sebagai salah satu insiden hooliganisme sepak bola terburuk yang pernah ada di Inggris. Ketika itu Chelsea mengalami kekalahan, Whitton dan lainnya masuk ke sebuah Bar sambil berteriak, "Perang, perang, perang!!". Beberapa menit kemudian manager bar yang berasal dari Amerika tersungkur sekarat dan seorang Hooligan berteriak kepadanya, "Kalian orang Amerika datang ke sini dan mengambil pekerjaan kami!"
manajer bar tersebut ialah,  Neil Hansen,29 tahun  berbaring di lantai, dekat dengan kematian

@joesesath


sejarah sepakbola

Sepak bola merupakan olahraga yang dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Bukti ilmiah yang bisa didapat adalah adanya permainan semacam sepak bola di negeri Cina. Kala itu, dinasti Han melatih tentara menggunakan “tsu-chu” untuk latihan fisiknya, yaitu latihan menendang bola kulit memasukkan ke dalam jaring kecil yang diikatkan pada batang-batang bambu panjang. Pemain membidikkan bola ke dalam jaring kecil menggunakan kaki, dada, punggung, serta bahu sambil berusaha menahan serangan dari lawan.

Di Jepang dikenal pula permainan semacam “tsu-chu” sekitar 500 – 600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule” bisa memperpanjang daftar yang membuktikan sepakbola adalah olah raga yang berusia sangat tua.

Ada dugaan bahwa orang-orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Tapi masih disangsikan apakah haspartum merupakan pendahulu sepak bola yang sekarang dikenal ini, sebab penduduk Celtic di Cronwall juga sudah mengenal permainan yang serupa yang disebut “hurling”. Waktu itu jelas belum ada peraturan yang baku. Orang boleh bermain tanpa jumlah yang pasti dan bukan hanya kaki, tetapi tanganpun boleh ikut memainkan bola. Bahkan boleh menendang tulang kering serta membawa lari bola.

Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini, tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1863, tepatnya pada tanggal 26 Oktober, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernihkan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pertemuan ini berhasil membentuk Football Association (FA) yang pertama walaupun berbuntut keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Setelah 6 tahun Football Association berjalan, permainan sepak bola semakin mendekati kesempurnaan, terutama setelah adanya keputusan yang melarang setiap pemegangan bola (bukan hanya melarikan). Di tahun kedelapannya (baca: FA), selain anggota yang bertambah menjadi 50 perkumpulan, kompetisi sepak bola yang pertama juga mulai digelar di bawah naungannya. Pertumbuhan sepak bola melaju begitu pesat di seantero jagat bahkan pada tahun 1879 sudah dikenal langkah-langkah sepakbola profesional di Darwin, yaitu dua pemainnya: John Love dan Fergus Suter, dilaporkan sebagai orang-orang pertama yang menerima bayaran dari bakatnya bermain sepakbola.

Setelah Football Association, segera menyusul di Nederland, the Scottisch FA (1873), The TA of Wales (1875), dan The Irish FA di Belfast, Selandia Baru (1891), Argentina (1893), Chili (1895), Swiss dan Belgia (1895) Italia (1898), Jerman dan Uruguay (1900), Hongaria (1901), dan Finlandia pada tahun 1907.

Pada tahun 1907, berdirilah Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) di Paris, Perancis atas prakarsa 7 negara, yaitu Perancis, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia dan Swiss. Dari tujuh anggota berkembang menjadi 36 pada tahun 1925, dan setelah diselingi Perang Dunia II, FIFA sudah diikuti oleh 73 anggota pada perebutan Piala Dunia II. Saat ini FIFA mempunyai anggota sebanyak 146.300.000 klub, 200.000 di antaranya berada di Eropa dengan sekitar 680.000 tim dan 22 juta pemain yang aktif.

wow..!! sungguh dashyat olahraga ini, semoga sepakbola bisa jadi sarana pemersatu bangsa
khusus nya di indonesia ini,

sumber :sepenggal sejarah

tragedi heysel

Final kompetisi Piala Champion, kini bernama Liga Champion, tanggal 29 Mei 1985 menjadi hari kelabu dalam sejarah dunia sepakbola.
Pertandingan antara dua kesebelasan tenar itu seharusnya dinikmati oleh suporter kedua tim. Tetapi apa daya takdir berkata lain. 39 orang penggemar Juventus meregang nyawa, sementara 600 lainnya terluka akibat perkelahian dengan pendukung Liverpool.
Petang hari itu menjadi waktu yang dinanti oleh pendukung kedua kesebelasan. Mereka bersuka cita mendatangi Stadion Heysel di Ibu Kota Brussel, Belgia, buat menyaksikan klub kesayangan mereka berlaga di lapangan hijau dalam waktu 90 menit.
Kondisi kedua klub sedang berada di puncak performa. Juventus pada 1984 baru saja memenangi kejuaraan Winner's Cup dan penyerang mereka, Michel Platini asal Prancis, tiga kali meraih penghargaan Ballon d'Or atau pemain terbaik di Eropa pada tahun 1983 hingga 1985. Beberapa pemain inti di tim nasional Italia yang menang pada kompetisi Piala Dunia 1982 juga diambil dari kesebelasan berjuluk I Bianconeri itu.
Liverpool juga tidak kalah hebat saat itu. Setalah setahun sebelumnya mereka mengalahkan kesebelasan A.S. Roma dari Italia, The Reds yang empat musim juara kompetisi Liga Champion bertekad mempertahankan gelar itu.
Meski begitu, rupanya para hooligans, julukan bagi suporter sepakbola asal Inggris, menaruh dendam kepada pendukung asal Italia karena pada 1984 saat laga Liverpool melawan A.S. Roma, mereka diserang sebelum dan setelah pertandingan.
Kondisi Stadion Heysel, saat itu sudah berusia lebih dari separuh abad, dan banyak fasilitas kurang layak juga dituding sebagai salah satu yang memperburuk peristiwa itu. Selain tidak terawat, beberapa bagian stadion terbuat dari bahan ringkih. Para pendukung yang tidak kebagian tiket bisa menjebol tembok terbuat dari batako berlubang.
Direktur Liverpool Peter Robinson saat itu sudah mengeluhkan buruknya keadaan stadion itu dengan melapor kepada Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Para pendukung dan pemain kesebelasan Inggris, Arsenal, bermain di sana beberapa tahun sebelumnya mengatakan kalau tempat itu seperti tempat sampah. 
Robinson mendesak UEFA agar pertandingan dilangsungkan di Stadion Camp Nou milik kesebelasan Barcelona atau Santiago Bernabeau kepunyaan klub Real Madrid asal Spanyol. Tetapi sarannya tidak digubris dan Asosiasi Sepak Bola Eropa tetap berkeras menyelenggarakan partai final Liga Champion 1982 di Stadion Heysel.
Saat tiba hari pertandingan, Stadion disesaki 50 hingga 60 ribu suporter dari kedua kesebelasan. Walau tempat duduk mereka sudah dipisah, pendukung Juventus ditempatkan di sektor O, N, dan M, sementara pendukung Liverpool duduk di area X, Y, Z.
Rupanya tetap saja para hooligan itu merangsek mendekati kubu lawan. Suasana saat itu sudah sangat panas karena kedua kubu saling menyanyikan lagu mars kebanggaan sembari mengibarkan bendera kesebelasan kebanggaan.
Pukul tujuh malam, tepat satu jam sebelum pertandingan, keributan pecah. Para pendukung Liverpool menjebol pagar pemisah sehingga banyak dari suporter Juventus tertiban. Mereka mencoba menyelamatkan diri tetapi tidak sempat.
Tanpa ampun para hooligan itu menyerang lawan dengan berbagai benda. Kursi penonton tembok tribun yang dipecahkan melayang ke arah para penggemar Juventus. Para penggemar kedua kesebelasan baku hantam bak jawara di tribun penonton.
Tidak puas, mereka turun ke lapangan melampiaskan amarah satu sama lain. Penonton lokal turut menjadi korban dan terjepit di antara dua kubu suporter itu.
Situasi saat itu sangat kacau, kedua kubu saling serang. Polisi kewalahan menghadapi amuk penggemar The Reds yang makin menggila. Saat kericuhan sedikit bisa dikendalikan, kedua kapten kesebelasan keluar dan mengajak penonton agar tenang dan mereka bisa melakukan pertandingan.
Kedua kesebelasan akhirnya bermain dengan waktu penuh. Laga itu dimenangkan oleh Juventus dengan skor 1-0 dan dicetak Michel Platini setelah mendapat hadiah tendangan 12 pas akibat pelanggaran di kotak penalti oleh Zbigniew Boniek.
Akibat terinjak-injak dan tertiban pagar pembatas tinggi, 32 orang penggemar I Bianconeri, dua di antaranya anak-anak, tewas di tempat. Empat penonton asal Belgia, dua orang Prancis, dan satu orang Irlandia Utara juga meregang nyawa sebagai akibat dari keganasan penggemar Liverpool itu.
Buntut dari peristiwa itu, UEFA melarang semua klub sepak bola Inggris berkompetisi di ajang Liga Champion lima tahun. Khusus Liverpool dilarang bermain di liga para kesebelasan raksasa itu selama enam tahun.
Sanksi itu baru dicabut pada 1990 dan 1991. Beberapa pendukung The Reds kemudian dihukum penjara selama tiga tahun karena dianggap menjadi pemicu tindak kekerasan itu.
Pada babak perempat final Liga Champion 2005, kedua kesebelasan kembali berhadapan. Belajar dari Tragedi Heysel, pengamanan dilakukan secara ketat. Apalagi laga itu dilangsungkan di stadion kebanggaan The Reds, Anfield

@joesesath