Chelsea,
Headhunters merupakan klub Hooligan rasis yang juga kadang di kaitkan
dengan Front Nasional dan Paramiliter Combat 18.
Para pemburu kepala memiliki persaingan dengan rekan-rekan yang mengikuti tim lain London, seperti arsenal, tottenham , west ham dan queen park rangers
Pada 1999, headhunter telah disusupi oleh seorang reporter BBC yang
menyamar sebagai anggota tapi punya tato singa yang salah (Fans berat
Chelsea pasti tau Logo Singa Chelsea) - kesalahan berisiko yang membuat
geram para Headhunters.
Mantan pimpinan Headhunters, Kevin Whitton, dijatuhi hukuman penjara
seumur hidup pada tahun 1985 setelah melakukan suatu serangan yang
dianggap sebagai salah satu insiden hooliganisme sepak bola terburuk
yang pernah ada di Inggris. Ketika itu Chelsea mengalami kekalahan,
Whitton dan lainnya masuk ke sebuah Bar sambil berteriak, "Perang,
perang, perang!!". Beberapa menit kemudian manager bar yang berasal dari
Amerika tersungkur sekarat dan seorang Hooligan berteriak kepadanya,
"Kalian orang Amerika datang ke sini dan mengambil pekerjaan kami!" manajer bar tersebut ialah, Neil Hansen,29 tahun berbaring di lantai, dekat dengan kematian
@joesesath
Jumat, 01 Juni 2012
sejarah sepakbola
Sepak bola merupakan olahraga yang dikenal sejak ribuan tahun yang lalu.
Bukti ilmiah yang bisa didapat adalah adanya permainan semacam sepak
bola di negeri Cina. Kala itu, dinasti
Han melatih tentara menggunakan “tsu-chu” untuk latihan fisiknya, yaitu
latihan menendang bola kulit memasukkan ke dalam jaring kecil yang
diikatkan pada batang-batang bambu panjang. Pemain membidikkan bola ke
dalam jaring kecil menggunakan kaki, dada, punggung, serta bahu sambil
berusaha menahan serangan dari lawan.
Di Jepang dikenal pula permainan semacam “tsu-chu” sekitar 500 – 600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule” bisa memperpanjang daftar yang membuktikan sepakbola adalah olah raga yang berusia sangat tua.
Ada dugaan bahwa orang-orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Tapi masih disangsikan apakah haspartum merupakan pendahulu sepak bola yang sekarang dikenal ini, sebab penduduk Celtic di Cronwall juga sudah mengenal permainan yang serupa yang disebut “hurling”. Waktu itu jelas belum ada peraturan yang baku. Orang boleh bermain tanpa jumlah yang pasti dan bukan hanya kaki, tetapi tanganpun boleh ikut memainkan bola. Bahkan boleh menendang tulang kering serta membawa lari bola.
Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini, tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1863, tepatnya pada tanggal 26 Oktober, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernihkan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pertemuan ini berhasil membentuk Football Association (FA) yang pertama walaupun berbuntut keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Setelah 6 tahun Football Association berjalan, permainan sepak bola semakin mendekati kesempurnaan, terutama setelah adanya keputusan yang melarang setiap pemegangan bola (bukan hanya melarikan). Di tahun kedelapannya (baca: FA), selain anggota yang bertambah menjadi 50 perkumpulan, kompetisi sepak bola yang pertama juga mulai digelar di bawah naungannya. Pertumbuhan sepak bola melaju begitu pesat di seantero jagat bahkan pada tahun 1879 sudah dikenal langkah-langkah sepakbola profesional di Darwin, yaitu dua pemainnya: John Love dan Fergus Suter, dilaporkan sebagai orang-orang pertama yang menerima bayaran dari bakatnya bermain sepakbola.
Setelah Football Association, segera menyusul di Nederland, the Scottisch FA (1873), The TA of Wales (1875), dan The Irish FA di Belfast, Selandia Baru (1891), Argentina (1893), Chili (1895), Swiss dan Belgia (1895) Italia (1898), Jerman dan Uruguay (1900), Hongaria (1901), dan Finlandia pada tahun 1907.
Pada tahun 1907, berdirilah Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) di Paris, Perancis atas prakarsa 7 negara, yaitu Perancis, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia dan Swiss. Dari tujuh anggota berkembang menjadi 36 pada tahun 1925, dan setelah diselingi Perang Dunia II, FIFA sudah diikuti oleh 73 anggota pada perebutan Piala Dunia II. Saat ini FIFA mempunyai anggota sebanyak 146.300.000 klub, 200.000 di antaranya berada di Eropa dengan sekitar 680.000 tim dan 22 juta pemain yang aktif.
wow..!! sungguh dashyat olahraga ini, semoga sepakbola bisa jadi sarana pemersatu bangsa
khusus nya di indonesia ini,
sumber :sepenggal sejarah
Di Jepang dikenal pula permainan semacam “tsu-chu” sekitar 500 – 600 tahun kemudian yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule” bisa memperpanjang daftar yang membuktikan sepakbola adalah olah raga yang berusia sangat tua.
Ada dugaan bahwa orang-orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Tapi masih disangsikan apakah haspartum merupakan pendahulu sepak bola yang sekarang dikenal ini, sebab penduduk Celtic di Cronwall juga sudah mengenal permainan yang serupa yang disebut “hurling”. Waktu itu jelas belum ada peraturan yang baku. Orang boleh bermain tanpa jumlah yang pasti dan bukan hanya kaki, tetapi tanganpun boleh ikut memainkan bola. Bahkan boleh menendang tulang kering serta membawa lari bola.
Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini, tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1863, tepatnya pada tanggal 26 Oktober, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernihkan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pertemuan ini berhasil membentuk Football Association (FA) yang pertama walaupun berbuntut keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.
Setelah 6 tahun Football Association berjalan, permainan sepak bola semakin mendekati kesempurnaan, terutama setelah adanya keputusan yang melarang setiap pemegangan bola (bukan hanya melarikan). Di tahun kedelapannya (baca: FA), selain anggota yang bertambah menjadi 50 perkumpulan, kompetisi sepak bola yang pertama juga mulai digelar di bawah naungannya. Pertumbuhan sepak bola melaju begitu pesat di seantero jagat bahkan pada tahun 1879 sudah dikenal langkah-langkah sepakbola profesional di Darwin, yaitu dua pemainnya: John Love dan Fergus Suter, dilaporkan sebagai orang-orang pertama yang menerima bayaran dari bakatnya bermain sepakbola.
Setelah Football Association, segera menyusul di Nederland, the Scottisch FA (1873), The TA of Wales (1875), dan The Irish FA di Belfast, Selandia Baru (1891), Argentina (1893), Chili (1895), Swiss dan Belgia (1895) Italia (1898), Jerman dan Uruguay (1900), Hongaria (1901), dan Finlandia pada tahun 1907.
Pada tahun 1907, berdirilah Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) di Paris, Perancis atas prakarsa 7 negara, yaitu Perancis, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia dan Swiss. Dari tujuh anggota berkembang menjadi 36 pada tahun 1925, dan setelah diselingi Perang Dunia II, FIFA sudah diikuti oleh 73 anggota pada perebutan Piala Dunia II. Saat ini FIFA mempunyai anggota sebanyak 146.300.000 klub, 200.000 di antaranya berada di Eropa dengan sekitar 680.000 tim dan 22 juta pemain yang aktif.
wow..!! sungguh dashyat olahraga ini, semoga sepakbola bisa jadi sarana pemersatu bangsa
khusus nya di indonesia ini,
sumber :sepenggal sejarah
tragedi heysel
Final kompetisi Piala Champion, kini bernama Liga Champion, tanggal
29 Mei 1985 menjadi hari kelabu dalam sejarah dunia sepakbola.
Pertandingan antara dua kesebelasan tenar itu seharusnya dinikmati oleh suporter kedua tim. Tetapi apa daya takdir berkata lain. 39 orang penggemar Juventus meregang nyawa, sementara 600 lainnya terluka akibat perkelahian dengan pendukung Liverpool.
Petang hari itu menjadi waktu yang dinanti oleh pendukung kedua kesebelasan. Mereka bersuka cita mendatangi Stadion Heysel di Ibu Kota Brussel, Belgia, buat menyaksikan klub kesayangan mereka berlaga di lapangan hijau dalam waktu 90 menit.
Kondisi kedua klub sedang berada di puncak performa. Juventus pada 1984 baru saja memenangi kejuaraan Winner's Cup dan penyerang mereka, Michel Platini asal Prancis, tiga kali meraih penghargaan Ballon d'Or atau pemain terbaik di Eropa pada tahun 1983 hingga 1985. Beberapa pemain inti di tim nasional Italia yang menang pada kompetisi Piala Dunia 1982 juga diambil dari kesebelasan berjuluk I Bianconeri itu.
Liverpool juga tidak kalah hebat saat itu. Setalah setahun sebelumnya mereka mengalahkan kesebelasan A.S. Roma dari Italia, The Reds yang empat musim juara kompetisi Liga Champion bertekad mempertahankan gelar itu.
Meski begitu, rupanya para hooligans, julukan bagi suporter sepakbola asal Inggris, menaruh dendam kepada pendukung asal Italia karena pada 1984 saat laga Liverpool melawan A.S. Roma, mereka diserang sebelum dan setelah pertandingan.
Kondisi Stadion Heysel, saat itu sudah berusia lebih dari separuh abad, dan banyak fasilitas kurang layak juga dituding sebagai salah satu yang memperburuk peristiwa itu. Selain tidak terawat, beberapa bagian stadion terbuat dari bahan ringkih. Para pendukung yang tidak kebagian tiket bisa menjebol tembok terbuat dari batako berlubang.
Direktur Liverpool Peter Robinson saat itu sudah mengeluhkan buruknya keadaan stadion itu dengan melapor kepada Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Para pendukung dan pemain kesebelasan Inggris, Arsenal, bermain di sana beberapa tahun sebelumnya mengatakan kalau tempat itu seperti tempat sampah.
Robinson mendesak UEFA agar pertandingan dilangsungkan di Stadion Camp Nou milik kesebelasan Barcelona atau Santiago Bernabeau kepunyaan klub Real Madrid asal Spanyol. Tetapi sarannya tidak digubris dan Asosiasi Sepak Bola Eropa tetap berkeras menyelenggarakan partai final Liga Champion 1982 di Stadion Heysel.
Saat tiba hari pertandingan, Stadion disesaki 50 hingga 60 ribu suporter dari kedua kesebelasan. Walau tempat duduk mereka sudah dipisah, pendukung Juventus ditempatkan di sektor O, N, dan M, sementara pendukung Liverpool duduk di area X, Y, Z.
Rupanya tetap saja para hooligan itu merangsek mendekati kubu lawan. Suasana saat itu sudah sangat panas karena kedua kubu saling menyanyikan lagu mars kebanggaan sembari mengibarkan bendera kesebelasan kebanggaan.
Pukul tujuh malam, tepat satu jam sebelum pertandingan, keributan pecah. Para pendukung Liverpool menjebol pagar pemisah sehingga banyak dari suporter Juventus tertiban. Mereka mencoba menyelamatkan diri tetapi tidak sempat.
Tanpa ampun para hooligan itu menyerang lawan dengan berbagai benda. Kursi penonton tembok tribun yang dipecahkan melayang ke arah para penggemar Juventus. Para penggemar kedua kesebelasan baku hantam bak jawara di tribun penonton.
Tidak puas, mereka turun ke lapangan melampiaskan amarah satu sama lain. Penonton lokal turut menjadi korban dan terjepit di antara dua kubu suporter itu.
Situasi saat itu sangat kacau, kedua kubu saling serang. Polisi kewalahan menghadapi amuk penggemar The Reds yang makin menggila. Saat kericuhan sedikit bisa dikendalikan, kedua kapten kesebelasan keluar dan mengajak penonton agar tenang dan mereka bisa melakukan pertandingan.
Kedua kesebelasan akhirnya bermain dengan waktu penuh. Laga itu dimenangkan oleh Juventus dengan skor 1-0 dan dicetak Michel Platini setelah mendapat hadiah tendangan 12 pas akibat pelanggaran di kotak penalti oleh Zbigniew Boniek.
Akibat terinjak-injak dan tertiban pagar pembatas tinggi, 32 orang penggemar I Bianconeri, dua di antaranya anak-anak, tewas di tempat. Empat penonton asal Belgia, dua orang Prancis, dan satu orang Irlandia Utara juga meregang nyawa sebagai akibat dari keganasan penggemar Liverpool itu.
Buntut dari peristiwa itu, UEFA melarang semua klub sepak bola Inggris berkompetisi di ajang Liga Champion lima tahun. Khusus Liverpool dilarang bermain di liga para kesebelasan raksasa itu selama enam tahun.
Sanksi itu baru dicabut pada 1990 dan 1991. Beberapa pendukung The Reds kemudian dihukum penjara selama tiga tahun karena dianggap menjadi pemicu tindak kekerasan itu.
Pada babak perempat final Liga Champion 2005, kedua kesebelasan
kembali berhadapan. Belajar dari Tragedi Heysel, pengamanan dilakukan
secara ketat. Apalagi laga itu dilangsungkan di stadion kebanggaan The
Reds, Anfield
@joesesath
Pertandingan antara dua kesebelasan tenar itu seharusnya dinikmati oleh suporter kedua tim. Tetapi apa daya takdir berkata lain. 39 orang penggemar Juventus meregang nyawa, sementara 600 lainnya terluka akibat perkelahian dengan pendukung Liverpool.
Petang hari itu menjadi waktu yang dinanti oleh pendukung kedua kesebelasan. Mereka bersuka cita mendatangi Stadion Heysel di Ibu Kota Brussel, Belgia, buat menyaksikan klub kesayangan mereka berlaga di lapangan hijau dalam waktu 90 menit.
Kondisi kedua klub sedang berada di puncak performa. Juventus pada 1984 baru saja memenangi kejuaraan Winner's Cup dan penyerang mereka, Michel Platini asal Prancis, tiga kali meraih penghargaan Ballon d'Or atau pemain terbaik di Eropa pada tahun 1983 hingga 1985. Beberapa pemain inti di tim nasional Italia yang menang pada kompetisi Piala Dunia 1982 juga diambil dari kesebelasan berjuluk I Bianconeri itu.
Liverpool juga tidak kalah hebat saat itu. Setalah setahun sebelumnya mereka mengalahkan kesebelasan A.S. Roma dari Italia, The Reds yang empat musim juara kompetisi Liga Champion bertekad mempertahankan gelar itu.
Meski begitu, rupanya para hooligans, julukan bagi suporter sepakbola asal Inggris, menaruh dendam kepada pendukung asal Italia karena pada 1984 saat laga Liverpool melawan A.S. Roma, mereka diserang sebelum dan setelah pertandingan.
Kondisi Stadion Heysel, saat itu sudah berusia lebih dari separuh abad, dan banyak fasilitas kurang layak juga dituding sebagai salah satu yang memperburuk peristiwa itu. Selain tidak terawat, beberapa bagian stadion terbuat dari bahan ringkih. Para pendukung yang tidak kebagian tiket bisa menjebol tembok terbuat dari batako berlubang.
Direktur Liverpool Peter Robinson saat itu sudah mengeluhkan buruknya keadaan stadion itu dengan melapor kepada Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Para pendukung dan pemain kesebelasan Inggris, Arsenal, bermain di sana beberapa tahun sebelumnya mengatakan kalau tempat itu seperti tempat sampah.
Robinson mendesak UEFA agar pertandingan dilangsungkan di Stadion Camp Nou milik kesebelasan Barcelona atau Santiago Bernabeau kepunyaan klub Real Madrid asal Spanyol. Tetapi sarannya tidak digubris dan Asosiasi Sepak Bola Eropa tetap berkeras menyelenggarakan partai final Liga Champion 1982 di Stadion Heysel.
Saat tiba hari pertandingan, Stadion disesaki 50 hingga 60 ribu suporter dari kedua kesebelasan. Walau tempat duduk mereka sudah dipisah, pendukung Juventus ditempatkan di sektor O, N, dan M, sementara pendukung Liverpool duduk di area X, Y, Z.
Rupanya tetap saja para hooligan itu merangsek mendekati kubu lawan. Suasana saat itu sudah sangat panas karena kedua kubu saling menyanyikan lagu mars kebanggaan sembari mengibarkan bendera kesebelasan kebanggaan.
Pukul tujuh malam, tepat satu jam sebelum pertandingan, keributan pecah. Para pendukung Liverpool menjebol pagar pemisah sehingga banyak dari suporter Juventus tertiban. Mereka mencoba menyelamatkan diri tetapi tidak sempat.
Tanpa ampun para hooligan itu menyerang lawan dengan berbagai benda. Kursi penonton tembok tribun yang dipecahkan melayang ke arah para penggemar Juventus. Para penggemar kedua kesebelasan baku hantam bak jawara di tribun penonton.
Tidak puas, mereka turun ke lapangan melampiaskan amarah satu sama lain. Penonton lokal turut menjadi korban dan terjepit di antara dua kubu suporter itu.
Situasi saat itu sangat kacau, kedua kubu saling serang. Polisi kewalahan menghadapi amuk penggemar The Reds yang makin menggila. Saat kericuhan sedikit bisa dikendalikan, kedua kapten kesebelasan keluar dan mengajak penonton agar tenang dan mereka bisa melakukan pertandingan.
Kedua kesebelasan akhirnya bermain dengan waktu penuh. Laga itu dimenangkan oleh Juventus dengan skor 1-0 dan dicetak Michel Platini setelah mendapat hadiah tendangan 12 pas akibat pelanggaran di kotak penalti oleh Zbigniew Boniek.
Akibat terinjak-injak dan tertiban pagar pembatas tinggi, 32 orang penggemar I Bianconeri, dua di antaranya anak-anak, tewas di tempat. Empat penonton asal Belgia, dua orang Prancis, dan satu orang Irlandia Utara juga meregang nyawa sebagai akibat dari keganasan penggemar Liverpool itu.
Buntut dari peristiwa itu, UEFA melarang semua klub sepak bola Inggris berkompetisi di ajang Liga Champion lima tahun. Khusus Liverpool dilarang bermain di liga para kesebelasan raksasa itu selama enam tahun.
Sanksi itu baru dicabut pada 1990 dan 1991. Beberapa pendukung The Reds kemudian dihukum penjara selama tiga tahun karena dianggap menjadi pemicu tindak kekerasan itu.
@joesesath
Kamis, 31 Mei 2012
Andik Vermansyah profil
Andik Vermansyah adalah pemain sepak bola asal Jember, Jawa Timur, Indonesia yang saat ini bermain untuk klub Persebaya, lahir 23 November 1991 Andik adalah satu-satu nya pemain indonesia yang berhasil mendapatkan kaos david beckam saat pertandingan uji coba Indonesia melawanLA Galaxy di stadion Gelora Bung Karno Beckham mengaku merasa bersalah karena sempat melakukan tackling keras kepada Andik yang saat itu berupaya menembus pertahanan LA Galaxy dengan kecepatanya.Media massa di Portugal menyebut Andik 'Messinya Indonesia'. Andik juga dikabarkan tengah diincar klub Portugal Benfica dan klub serie B Reggina Andik
juga dilirik oleh klub Serie A Inter Milan. Inter akan melihat
permainan Andik secara langsung saat klub raksaksa Italia itu berkunjung
ke Indonesia dalam rangka pertandingan persahabatan melawan Timnas indonesia
selain itu andik juga di ajak bertukar jersey dengan esteban cambiasso pada akhir laga indonesia selection kontra inter milan.
sungguh fenomenal pemain mungil ini dan indonesia patut bangga mempunyai pemain seperti andik vermansyah
@joesesath
selain itu andik juga di ajak bertukar jersey dengan esteban cambiasso pada akhir laga indonesia selection kontra inter milan.
sungguh fenomenal pemain mungil ini dan indonesia patut bangga mempunyai pemain seperti andik vermansyah
@joesesath
birmingham zulus
Kembali ke tahun 70-an, teriakan "Zulu, Zulu!"
dijalanan Birmingham hanya memiliki arti ; Ksatria Zulu, Birmingham City
yang terbaik dan provokasi untuk menantang bertempur.
Dikenal karena anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, Hooligan satu ini adalah salah satu yang paling ditakuti era 80-an - dan mereka tetap penyebab utama kerusuhan. Bentrokan kekerasan seringkali terjadi dengan pendukung klub rival Aston Villa pada hari derby, dan Zulu yang dikenal keras mempertahankan wilayah mereka dari serangan Hooligan lain.
Di antara sekian banyak insiden yang dipicu oleh Ksatria Zulu ini adalah serangkaian kerusuhan di Cardiff pada tahun 2001 yang menyebabkan satu Pub hancur, satu orang diserang dan sembilan lagi dibawa ke rumah sakit.
Kemudian pada tahun 2006, sekitar 200 fans Birmingham merobohkan pagar yang memisahkan mereka dari fans Stoke setelah pertandingan Piala FA, perang pun pecah, dan polisi tidak luput dari serangan Zulu. Seorang perwira senior menggambarkan kerusuhan ini sebagai "kekerasan ekstrim".
Dikenal karena anggotanya yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, Hooligan satu ini adalah salah satu yang paling ditakuti era 80-an - dan mereka tetap penyebab utama kerusuhan. Bentrokan kekerasan seringkali terjadi dengan pendukung klub rival Aston Villa pada hari derby, dan Zulu yang dikenal keras mempertahankan wilayah mereka dari serangan Hooligan lain.
Di antara sekian banyak insiden yang dipicu oleh Ksatria Zulu ini adalah serangkaian kerusuhan di Cardiff pada tahun 2001 yang menyebabkan satu Pub hancur, satu orang diserang dan sembilan lagi dibawa ke rumah sakit.
Kemudian pada tahun 2006, sekitar 200 fans Birmingham merobohkan pagar yang memisahkan mereka dari fans Stoke setelah pertandingan Piala FA, perang pun pecah, dan polisi tidak luput dari serangan Zulu. Seorang perwira senior menggambarkan kerusuhan ini sebagai "kekerasan ekstrim".
Rabu, 30 Mei 2012
Millwal Bushwackers
Mereka adalah supporter fanatik klub sepakbola Millwal. Nama Bushwackers mereka ambil dari "plesetan" nama penyerbuan ketika perang saudara di Amerika. Dan nggak ada yang mau cari gara-gara dengan Hooligan satu ini. Mereka bahkan punya senjata khusus yang dirancang sendiri untuk menyerang supporter lawan, mereka menyebutnya dengan "The Millwal Brick".
Pada puncak kegiatan mereka di 1980-an, Bushwackers kerap membuat ulah serius selama pertandingan, dan bertanggung jawab atas beberapa kerusuhan terburuk dalam sepakbola Inggris. Dan mereka bangga dengan kelakuannya itu.
Walaupun setelah itu mereka tidak "segarang" sebelumnya, namun 2 supporter Wolverhampton tewas dibuatnya. Ditusuk oleh Pisau Stanley. Sementara di tahun 2002 lebih banyak lagi pertumpahan darah ketika malam pertandingan play off versus Birmingham City. Polisi menggambarkan kejadian malam itu sebagai kekerasan terburuk dan menjadi reputasi Bushwackers yang tidak akan tertandingi.
Sol Campbell : lebih baik nonton di rumah dari pada anda beresiko pulan dengan peti mati
Beberapa saat sebelum dimulainya perhelatan Euro 2012, Ukraina yang
menjadi salah satu tuan rumah justru digoyang oleh isu rasisme yang
bukan tak mungkin mengurangi aliran suporter ke negara tersebut.
Mantan pemain bertahan Inggris Sol Campbell baru saja melontarkan sebuah penilaian mengejutkan terkait dengan rasisme di Ukraina, dalam wawancaranya dengan Panorama.
"Lebih baik tinggal di rumah, saksikan di TV. Jangan ambil risiko (pergi ke sana)... karena Anda bisa pulang di dalam peti mati," sarannya kepada fans, terutama fans Inggris, sebagaimana dikutip Guardian.
Pernyataan Campbell tersebut muncul setelah keluarga dari dua pemain Inggris, Theo Walcott dan Alex Oxlade-Chamberlain, mengaku tidak akan menyaksikan langsung laga-laga Inggris di Ukraina karena adanya ancaman kekerasan dan aksi rasisme.
Foreign Office, departemen di pemerintahan Inggris Raya yang bertugas mengurusi hal-hal di luar negeri, juga telah mengeluarkan peringatan yang tidak kalah membuat cemas. Departemen yang resminya bernama Foreign and Commonwealth Office itu menyarankan suporter (Inggris) keturunan Afrika-Karibia atau Asia mesti ekstra hati-hati.
Akibat isu rasisme tersebut, Federasi Sepakbola Inggris (FA) memperkirakan kota Kiev dan Donetsk di Ukraina hanya akan disambangi sekitar 5 ribu suporter Inggris. Jumlah ini masih kalah banyak ketimbang 10 ribu suporter yang datang ke Afrika Selatan, yang letaknya lebih jauh, pada 2010 dan 100 ribu fans yang mendatangi Jerman di Piala Dunia 2006.
Pun begitu, dalam wawancara kepada Football Focus BBC bulan April lalu dan akan disiarkan penuh 6 Juni nanti, dua pesepakbola asal Ukraina yang juga pernah beraksi di Inggris, Andriy Shevchenko dan Oleg Luzhny, menepis kekhawatiran.
"Di sini kami tidak memiliki masalah mengenai rasisme. Negara ini sangat tenang dan orang-orangnya pun ramah," kata Shevchenko yang pada periode 2006–2009 bermain untuk Chelsea.
"Tidak, tidak, tidak, aku tidak pernah mendengar mengenai hal itu (rasisme). Kami memiliki pemain-pemain Nigeria... dan aku tak pernah mendengar tentang rasisme," kata Luzhny yang di Inggris pernah membela Arsenal dan Wolverhampton Wanderers.
Mantan pemain bertahan Inggris Sol Campbell baru saja melontarkan sebuah penilaian mengejutkan terkait dengan rasisme di Ukraina, dalam wawancaranya dengan Panorama.
"Lebih baik tinggal di rumah, saksikan di TV. Jangan ambil risiko (pergi ke sana)... karena Anda bisa pulang di dalam peti mati," sarannya kepada fans, terutama fans Inggris, sebagaimana dikutip Guardian.
Pernyataan Campbell tersebut muncul setelah keluarga dari dua pemain Inggris, Theo Walcott dan Alex Oxlade-Chamberlain, mengaku tidak akan menyaksikan langsung laga-laga Inggris di Ukraina karena adanya ancaman kekerasan dan aksi rasisme.
Foreign Office, departemen di pemerintahan Inggris Raya yang bertugas mengurusi hal-hal di luar negeri, juga telah mengeluarkan peringatan yang tidak kalah membuat cemas. Departemen yang resminya bernama Foreign and Commonwealth Office itu menyarankan suporter (Inggris) keturunan Afrika-Karibia atau Asia mesti ekstra hati-hati.
Akibat isu rasisme tersebut, Federasi Sepakbola Inggris (FA) memperkirakan kota Kiev dan Donetsk di Ukraina hanya akan disambangi sekitar 5 ribu suporter Inggris. Jumlah ini masih kalah banyak ketimbang 10 ribu suporter yang datang ke Afrika Selatan, yang letaknya lebih jauh, pada 2010 dan 100 ribu fans yang mendatangi Jerman di Piala Dunia 2006.
Pun begitu, dalam wawancara kepada Football Focus BBC bulan April lalu dan akan disiarkan penuh 6 Juni nanti, dua pesepakbola asal Ukraina yang juga pernah beraksi di Inggris, Andriy Shevchenko dan Oleg Luzhny, menepis kekhawatiran.
"Di sini kami tidak memiliki masalah mengenai rasisme. Negara ini sangat tenang dan orang-orangnya pun ramah," kata Shevchenko yang pada periode 2006–2009 bermain untuk Chelsea.
"Tidak, tidak, tidak, aku tidak pernah mendengar mengenai hal itu (rasisme). Kami memiliki pemain-pemain Nigeria... dan aku tak pernah mendengar tentang rasisme," kata Luzhny yang di Inggris pernah membela Arsenal dan Wolverhampton Wanderers.
Langganan:
Postingan (Atom)






